cover depan novel the architecture of love ika natassa

[Resensi Buku] The Architecture of Love oleh Ika Natassa

cover depan novel the architecture of love ika natassaTHE ARCHITECTURE OF LOVE
Penulis: Ika Natassa | Jumlah halaman: 304 | Pertama terbit tahun 2016
Harga: Rp 84.000 (aku dapet diskon jadi Rp 67.200) | Rating dari aku 4/5

Kabarnya novel The Architecture of Love oleh Ika Natassa ini akan difilmkan tahun 2021 ini. Bahkan pemain utama sudah diumumkan, katanya Putri Marino. Tapi bukan itu yang membuatku ngiler sama buku ini, melainkan pekerjaan karakternya!

Sinopsis The Architecture of Love

Novel ini mengisahkan seorang penulis bernama Raia dan arsitek bernama River yang sama-sama “tersesat” di New York. Meskipun mereka terlihat passionate dengan bidang masing-masing, ada kejadian yang membuat imajinasi dan kemampuan mereka lenyap. Sampai ketika mereka berdua bertemu dan menjadi “kompas” masing-masing.

The funny thing is, nobody ever really knows how much anybody else is hurting. We could be standing next to somebody who is completely broken and we wouldn’t even know it.

quote novel the architecture of love ika natassa

Resensi Novel The Architecture of Love

I’m trying so hard not to spoil anything dan berusaha objektif. Karena aku biased sekali dengan menyamakan latar belakang pekerjaanku (penulis) serta “pria fantasiku” yang seorang arsitek. Jadi, sepanjang cerita adalah imajinasiku yang tertulis kalau saja aku punya pasangan arsitek beneran, hehehe. Thanks, kak Ika!

I have been dreaming about finding a partner who works as an architect. I think I’ve found one. His name is River, I met him in this book. 🙂 -Lidin

Oke serius.

Yang Aku Suka

Selain karakternya yang klop sama imajinasiku, aku suka sekali dialog-dialog dalam The Architecture of Love ini. Aktif dan menggambarkan karakter tokoh-tokohnya yang passionate sama pekerjaan mereka, perhatian akan detail, dan jujur, I might say.

Dialog menunjukkan flaws dan mood setiap karakter, konflik antar tokoh, dan internal konflik dalam diri mereka sendiri. Sebagai pembaca, aku juga jadi bisa merasakan perkembangan karakter yang perlahan-lahan meningkat lewat dialog-dialognya. Awalnya mereka seperti kalut. Tapi, keduanya kemudian menunjukkan sisi dewasa (dan kebahagiaan) masing-masing. Semacam akan ada pelangi setelah hujan gitu!

Jadi, enggak heran kalau buku ini bisa se-page-turning itu.

Karena pekerjaan tokoh utama sebagai penulis, maka kamu bisa melihat tips-tips menulis here and there kayak novel Selamat Tinggal yang juga punya tokoh penulis. Termasuk juga bagaimana cara ia berinteraksi dengan editor, proses penerbitan buku, dan sejenisnya.

Fascination is what keeps a writer going. To be able to write, a writer has to be fascinated about a particular something that becomes the idea for the story.

Aku juga pengin mengapresiasi metode menulis Ika Natassa yang melibatkan pembaca. Sebelum dan saat menulis, kak Ika melakukan polling di Twitter yang mengajak pengikutnya “menentukan takdir” para tokoh. Salut! Super kreatif sebagai seorang penulis abad 21. Agak sedih aku belum baca-baca novel Ika Natassa waktu itu, jadi enggak bisa berpartisipasi!

twitter ika natassaDitambah lagi, pembatas bukunya yang super cute!

pembatas buku novel the architecture of love ika natassa

Yang Kurang Kusuka

Latar belakang tokoh mirip buku-buku sebelumnya

Seperti halnya kebanyakan novel Ika Natassa sebelum-sebelumnya, tokoh memiliki latar belakang ekonomi yang cukup mapan, jadi mereka bisa “kabur” ke New York untuk periode yang lama. So, I might say kalau latar belakang ini a little bit repetitive dan enggak memberi surprise dari kepenulisan Ika Natassa.

Ngomong-ngomong, di sini kamu juga akan menemukan beberapa tokoh dari buku-buku kak Ika sebelumnya: Critical Eleven dan Antologi Rasa. Mereka berkelindan. Untuk pembaca setia memang seru, mereka jadi bisa nostalgia sama tokoh-tokoh lama. Tapi, kalau kamu belum pernah baca kedua buku tersebut, kamu bakal kena spoil parah! Jadi, menurutku lebih baik kamu membaca kedua buku tersebut sebelum mulai membaca the Architecture of Love.

Deskripsi kurang detail

Berlawanan dengan dialognya yang oke, deskripsinya menurutku kurang detail. Contohnya ketika si penulis mendeskripsikan bangunan di kota New York yang cenderung menuliskan surface-nya saja. Untung saja aku pernah melihat vlog dan film tentang New York, jadi gambaran kota ini enggak asing buatku.

Untung juga ada beberapa sketsa dalam bukunya!

Mungkin karena aku baru saja membaca Haruki Murakami yang deskripsinya sangat detail sampai-sampai aku merasa aku sedang ada di lokasi yang sama dengan karakter! Jadi, memiliki ekspektasi serupa pada buku-buku yang lain. Tapi, jika memang deskripsi detail bisa memberi pengalaman membaca yang lebih baik, aku tambahkan aja dalam review buku ini, kan?

Penulisan sudut pandang

Terus, ada suatu poin ketika Ika Natassa tiba-tiba mengganti sudut pandang. Yang awal-awalnya orang ketiga menjadi orang pertama. Menurutku, sesungguhnya penggunaan sudut pandang ketiga tetap bisa menyampaikan maksud karakter dan agar lebih konsisten saja karena pergantian sudut pandang benar-benar (terlalu) tiba-tiba.

Sebagai perbandingan, dalam buku The Seven Husbands of Evelyn Hugo, penulisnya memang mengganti sudut pandang. Tapi, itu ia lakukan mulai dari awal hingga akhir satu bab. Dan ada perbedaan signifikan dalam pembawaannya, sehingga pembaca jadi lebih memahami jika mereka berada dalam situasi karakter.

Kemungkinan Ika Natassa mengganti sudut pandang juga karena mempertimbangkan emosi dalam diri si tokoh yang ingin dia sampaikan juga. Tapi, penempatannya kurang tepat.

Ada yang belum terjelaskan

Satu lagi poin yang kurang kusuka adalah adanya satu isu yang kurang terjelaskan mengenai masa lalu Raia. Menurutku, kalau cerita udah dimulai seharusnya diselesaikan agar pembaca enggak merasa digantungkan.

Meskipun ini hanya cerita sampingan, jadinya terkesan ada “lubang” dalam novel The Architecture of Love. Atau, penulis mau melanjutkannya menjadi series? Itu akan beda lagi ceritanya😊

Kesimpulan

Berbagai kekurangan tersebut enggak menutup kelebihan-kelebihannya yang benar-benar membuat buku ini page-turning!

Novel The Architecture of Love benar-benar seru buat dibaca. Apalagi untuk aku yang merasa buku ini adalah fantasiku yang tertulis (bagian-bagian bahagianya aja, ya!).

 

Dari penulis yang pengin ketemu arsitek,

everlideen

Share this post via:

Comments

One response to “[Resensi Buku] The Architecture of Love oleh Ika Natassa”