resensi novel gadis minimarket

[Resensi Buku] Gadis Minimarket oleh Sayaka Murata

resensi buku gadis minimarket

GADIS MINIMARKET (CONVENIENCE STORE)
Penulis: Sayaka Murata | Jumlah halaman: 160
Harga: Rp 58.000 | Rating 3/5

Jadi, aku beli novel Gadis Supermarket karena cover-nya kuning. Aku suka kuning. Wkwkw, kidding. Aku beli ini karena dari awal kepo soal gimana pemeran utama, yang katanya enggak “normal” ini, menanggapi perkataan orang-orang di sekitarnya.

  • Tentang dia yang enggak menikah walaupun udah mendekati kepala 4.
  • Dia yang bekerja sebagai karyawan part-time minimarket, ketika teman-temannya pada dapat pekerjaan full-time.

That’s a bold “decision”, lho. Berkonfrontasi sama orang-orang yang terlanjur punya definisi “normal” secara umum itu enggak gampang! Begitulah pemikiranku sampai akhirnya memutuskan buat beli buku ini. Ternyata, ekspektasiku melenceng.

Sinopsis Gadis Minimarket

sinopsis gadis minimarket
Sinopsis yang bikin aku penasaran 🙂

Seorang cewek bernama Keiko Furukara (36 tahun) bekerja part-time di supermarket selama belasan tahun. Bukan hanya itu “keanehen” Keiko, dia juga belum menikah dan enggak pernah pacaran.

Tapi, dia sebenarnya udah bertingkah aneh sejak kecil. Pas ada burung mati, dia malah pengin makan burung itu bukannya malah nangis atau sedih. Dia juga mukul dua temannya yang saling berkelahi biar mereka berhenti. Ibunya pun udah berusaha memeriksanya ke psikolog. But, it doesn’t work.

Sampai suatu saat, dia ketemu sama pegawai cowok di supermarket bernama Shiraha. Umurnya juga mirip sama dan dia enggak punya pekerjaan tetap. Si Shiraha ini udah skeptis bangetlah sama kehidupan dan sering banget bandingin zaman sekarang sama zaman dulu.

Karena itulah aku sadar bahwa sejak Zaman Jomon masyarakat tak pernah berubah. Mereka yang berguna bagi kelompok akan disingkirkan.

[SPOILER] Shiraha akhirnya menawarkan perjanjian dengan menikahi Keiko, tapi si cowok ingin menjadikannya sebagai “sapi perah”.

Review Buku Gadis Minimarket

Yang aku suka dari buku ini

Pertama, aku mau mengapresiasi penerjemahnya Ninuk Sulistyawati yang dengan menghasilkan terjemahan yang readable dan smooth!

Terus, yang aku suka juga adalah buku ini memantik kita buat lebih aware lagi sama identitas dan arti masyarakat. Mempertanyakan apa sih artinya masyarakat? Apa kita benar-benar disebut sebagai anggota masyarakat meskipun kita “berbeda”?

Aku jadi ingat pelajaran Cultural Studies pas semester 6 lalu. Masyarakat itu sebenarnya hanya “imagined communities, berisi sekumpulan orang yang mengganggap dirinya sebagai bagian dari kelompok. It’s an abstract concept nggak sih jadinya?!

Aku mulai kehilangan pemahaman tentang apa arti “masyarakat”. Bahkan aku merasa itu adalah khayalan.

Mereka melihat dirinya jadi bagian kelompok itu karena merasa punya standar atau stereotypes yang sama. Gampangannya pas kamu keluar kota, terus ketemu orang yang berasal dari hometown-mu, rasanya seneng, kan? Berasa “ada teman” padahal kalian aja enggak saling kenal!

Nah, di novel Gadis Minimarket ini kita dipertontonkan dua orang yang “enggak memenuhi” standar atau stereotypes itu, alhasil (kasarannya) mereka didepak dari masyarakat. Mereka udah berumur, tapi belum nikah dan enggak punya pekerjaan tetap. It’s harsh, but it’s true.

kutipan buku gadis minimarket
Gimana pendapatmu soal statement-nya Shihara? 🙂

Mungkin orang yang merasa hidupnya dilanggar oleh orang lain akan merasa sedikit lebih baik dengan menyerang orang lain menggunakan cara yang sama.

Hanya karena aku minoritas dengan gampangnya mereka mau memerkosa kehidupanku.

Yang aku enggak suka dari buku ini

Sejujurnya, aku agak enggak yakin sama jalan pikirannya si Keiko ini. Dia emang berani dan menutup mata sama opini orang lain. Atau, dia emang autis. Ini enggak diceritain di bukunya sih, hanya dugaan-dugaan yang dikaitkan sama perilaku si Keiko.

No offense ya, tapi seorang yang autis emang kurang bisa mengerti kehidupan “normal” orang lain. Mereka suka meniru body language orang sekitar dan enggak suka perubahan.

Nah, hal ini semua ditunjukkan sama si tokoh utama. Dia menjalani hidupnya kayak robot dan enggak interest ke hubungan seks atau percintaan. Bahkan, buat bikin small decisions aja dia nanya ke adiknya.

gadis minimarket sayaka murataYa, kayak mau gimana lagi, kalau dari awal keadaan dirinya kayak gitu, agak sulit emang buat Keiko ngerti sifat manusia yang kompleks. Kalau yang Kim Ji-Young itu kan dia “normal”, tapi emang keadaan di sekitarnya aja yang bikin dia berubah.

Baca juga: [Resensi Buku] Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 oleh Cho Nam-Joo

Jadi, buat menghubungkan general topic yang keren banget, agak kurang cocok sama karakter yang menurutku kurang kuat meskipun tetap kasih perspektif baru. Atau, opini enggak suka ini adalah bentuk kekecewaanku yang udah terlanjur berekspektasi tinggi sama sinopsisnya, sih. Hehehe.

border for blogJadi, apakah buku ini worth to read? Hm, kalau kamu kepo dan punya uang lebih, boleh aja, sih. Tapi, kalau enggak, aku saranin kamu melangkah ke TBR books kamu selanjutnya 😊

 

Dari anak yang suka warna kuning,

everlideen

 

Share this post via:

Comments

2 responses to “[Resensi Buku] Gadis Minimarket oleh Sayaka Murata”

  1. Sampai saya selesai membaca buku ini, masih ada yang mengganjal. Jadi sebenarnya tujuan novel ini apa? Apa yang ingin disampaikan? Normal/tidak normal? Lalu? Terus? Malah jadi bikin overthinking, mikirin hal yg ga perlu 😂. Penulisannya oke sih, tp buat saya pribadi novel ini cukup aneh dan tidak relatable. Yah sekali lagi, itu opini saya.

    1. Everlideen Avatar
      Everlideen

      Aku setuju kok sama opininnya! 😀 Penulisnya sendiri enggak menjelaskan secara detail background “kenapa” karakter berpikiran atau bertindak semacam itu.