pekerjaan ghostwriter atau penulis bayangan

Penjelasan Gamblang tentang Ghostwriter, Si Penulis Bayangan

Awal dengar kata ghostwriter, mungkin kamu menganggapnya aneh. Sama, aku juga. Penulis hantu atau hantu penulis? Di Indonesia, pekerjaan ini disebut sebagai penulis bayangan atau penulis siluman—ngeri banget, nggak, sih?

Okay, let’s stop talking about the term.

Mari kita membahas ngapain aja sih seorang ghostwriter. Kenapa pula orang mau menjadi siluman?! (LOL). Dan my little bit experience dalam hal ini.

Apa itu ghostwriter?

Ghost Writer : comics

Ghostwriter adalah penulis profesional yang di-hire buat menulis secara anonim. Jadi, enggak bakal ada namanya dalam tulisannya.

Mereka menulis apa? Apa aja! Mulai dari buku fiksi, nonfiksi, sampai tulisan blog.

Kenapa orang memakai ghostwriter?

Mewakili brand besar

Menurutku, ghostwriter ini bertindak buat merepresentasikan “brand“.

Misal, kalau sekarang aku nulis sebuah buku atas namaku, aku yakin kemungkinan besar enggak akan laku. Siapa gitu kan yang mengenal seorang Lidin?

Tapi, berbeda case-nya kalau buku itu diterbitkan atas nama orang terkenal. Misalnya aja Michelle Obama. Kan beliau udah punya personal brand yang kuat tuh, otomatis buku atas namanya bakal gampang banget laris. Btw, buku Michelle Obama Becoming adalah produk ghostwriting, lho.

Becoming: Obama, Michelle: 9781524763138: Amazon.com: Books

Nah, orang-orang kayak Michelle Obama bisa aja punya ide hebat. Tapi, mereka sibuk dan bingung gimana cara menuangkannya dalam bentuk tulisan. Makanya, si doi hire orang yang bisa nulis dan mengutarakan pemikirannya dengan terstruktur.

Mengambil manfaat yang ada

Dalam kasus ghostwriting di blog, mungkin kamu heran, “Dia niat bikin blog kan harusnya ada skill dasar menulis. Kok hire orang, sih?”

Blog bukan hanya buat orang yang suka nulis. Ada banyak alasan kenapa pemilik blog bikin blog. (Pst, pemilik blog ini enggak hanya jenis perseorangan ya. Bisa juga tim atau perusahaan).

  • Alat marketing.

Blog adalah cara yang efektif buat “memasarkan diri” di dunia online. Kebanyakan, orang yang mau bekerja sama bakal search nama partner-nya di Google. Nah, kalau orang atau bisnis itu udah punya online presence yang bagus, kesepakatan kolaborasi bisa datang lebih cepat.

Terus, blog bisa dipakai buat “transaksi” backlinks. Kayak aku ngomongin di blog soal search engine optimization (SEO) kemarin, backlinks berperan penting buat menaikkan ranking di Google. Nah, bisa aja blog dijadikan perusahaan buat naruh links dan kerja sama.

Mengedukasi audiensnya dan dapat ranking di Google. Cek aja Gramedia Blog misalnya. Mereka kasih rekomendasi buku-buku yang sesuai lewat blog itu. Terus, blog kan isinya banyak kata kunci, , jadi bisa bantu menaikkan ranking website mereka.

  • Cuan dari Ads dan placement.

Bisa gede, lho, kalau dapat traffic rutin.

Dengan manfaatnya itu, mereka tetap mau nge-blog, kan… Tapi, mereka enggak bisa nulis atau bahkan mengurus tetek bengek blog, kayak merencanakan topik, analisis audiens, sampai belajar SEO.

Ya udah, mempekerjakan orang aja.

So sad.. Terus, kenapa orang mau jadi ghostwriter?

Sebenarnya, ada berbagai alasan orang mau jadi ghostwriter.

Tapi, utamanya… duit 🙂

Secara gamblang dan jujur aja, orang butuh duit, termasuk ghostwriter. Mereka enggak perlu seterkenal Michelle Obama buat mendapatkan uang. Dengan buku atas nama sang tokoh besar, mereka bisa aja dapat uang lebih banyak dari persentase penjualannya.

Daripada nerbitin buku buaaagus atas nama sendiri, tapi enggak ada yang ngelirik 🤢 Kan buang-buang duit.

Passion 😉

Mereka dengan suka rela membantu orang lain mengutarakan pemikirannya lewat tulisan. Enggak apa enggak ada namanya, asalkan dia bisa nulis aja, deh.

Ada juga yang terenyuh atau tertarik sama pemikiran dan kisah seseorang, akhirnya mereka terinspirasi buat menulis atas namanya.

Latihan

Menjadi ghostwriter buat memupuk pengalaman menulis. Kelak, ia akan menulis dengan namanya sendiri dengan kualitas tulisan yang “langsung” oke.

Gimana proses menulis seorang ghostwriter?

Tergantung kesepakatan.

proses menulis seorang ghostwriter atau penulis bayangan
Ini secara gampangnya aja, sih. But you get the idea.

Yang nge-hire kadang udah punya ide, topik, atau kerangka tulisan. Jadi, si ghostwriter “tinggal” menulis. Beberapa pemilik ide bahkan mengajak riset dan diskusi bersama.

Tapi, ada juga yang menyerahkan sepenuhnya sama si penulis mulai awal hingga akhir. Yang nge-hire berperan jadi “brand”-nya aja.

Sedih enggak sih jadi ghostwriter, Din?

Honestly, emang lebih senang menulis yang ada nama kita di tulisannya, kan. Ada rasa bangga dan bisa dijadikan portofolio terpercaya.

Tapi, it’s not that bad. Bisa jadi ladang latihan menulis sekaligus mencari uang, hehe.

Makanya, selain menulis secara anonim buat website lain, aku “membangun” portofolioku lewat blog ini. Terpampang nyata namaku! Juga, lewat kesempatan-kesempatan menulis di laman kontribur yang ada namaku. And, I suggest that you do it so.

Aku enggak yakin tulisanku (dan dompetku) akan berkembang kalau enggak sering menulis—secara ghostwriting—selama ini, bahkan sampai sekarang.

border for blogSemoga dengan penjelasan di atas, kamu udah enggak takut lagi sama seorang ghostwriter—sama aku. And, it’s worth mentioning that being a ghostwriter is not illegal or a sin.

Dari penulis hantu cantik :P,

everlideen

Share this post via: